Kulitpembungkus makanan yang akan saya bahas di sini adalah kulit yang edible alias bisa dimakan. Tapi kulit jadi ini tidak bisa kamu gunakan untuk bikin sosis atau martabak, ya. Karena sudah jelas penggunaannya untuk lumpia, sehingga tipis dan rawan robek. 3. Rice Paper Sosisadalah makanan yang dibuat dari daging ayam yang telah dicincang kemudian dihaluskan dan diberi bumbu-bumbu, dimasukkan ke dalam pembungkus yang berbentuk bulat panjang yang berupa usus hewan atau pembungkus buatan, dengan atau tanpa dimasak maupun diasapkan.2 Agu 2012 IniPerbedaan Kulit Sosis yang Bisa Dimakan Vs Tidak Bisa Dimakan. June 19, 2020. Admin. Tips Dapur, Tips Sehat. dapur, sosis, tips. 1 Comment. Perbedaan kulit sosis yang bisa dimakan dengan yang tidak bisa dimakan tentu sangat signifikan. Ada sejumlah perbedaan yang bisa Anda ketahui dari pembungkus sosis atau dikenal juga dengan casing sosis termasukorgan-organ lain yang dapat dimakan. Otot hewan berubah menjadi daging setelah pemotongan karena fungsi fisiologisnya telah berhenti (Soeparno, 2005). Sosis merupakan makanan yang dibuat dari daging maupun ikan yang telah dicincang, dihaluskan, diberi bumbu-bumbu, lalu dimasukkan ke dalam pembungkus . Jakarta - Pembungkus makanan memegang peranan yang sangat penting. Seiring waktu dikembangkanlah pembungkus yang bisa ikut dimakan berikut isinya yang dikenal dengan edible packaging. Namun benarkah pembungkus ini halal untuk dikonsumsi?Teknologi kemasan berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi pengolahan pangan. Harus diakui kini pembungkus makanan memegang peranan yang penting, bahkan terkadang lebih penting dari isinya. Selain bisa mempercantik makanan dengan kemasan yang bagus juga mampu meningkatkan nilai tambah makanan itu zaman dahulu kemasan lebih didominasi oleh bahan-bahan alami seperti daun, bambu, dan kayu. Kemudian dengan ditemukannya kemasan sintetis seperti plastik, kaca, kaleng, dan alumuniun foil maka pembungkus alami tersebut mulai ditinggalkan. Sayang kemasan sintetis ternyata menimbulkan sejumlah masalah lingkungan dan efek samping pemakaiannya. Misalnya kemasan gelas dan kaleng digugat konsumen karena dianggap mengancam kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup. Sedangkan plastik dan gabus styrofoam untuk makanan yang dipanaskan akan menyisakan monomer hasil degradasi dari polimer yang merupakan bahan penyusun plastik. Nah, bahan monomer tersebut diduga kuat bisa menimbulkan gangguan kesehatan yang bisa mengakibatkan kanker jika terkonsumsi karena itu maka dikembangkanlah jenis kemasan yang biasa dimakan edible packaging. Selain tetap berorientasi pada industrialisasi juga ramah lingkungan dan aman bagi konsumen. Salah satu pembungkus edible yang populer adalah pembungkus bahan pembungkus sosis memakai usus kambing atau babi. Namun karena tidak praktis dikembangkanlah pembungkus sejenis plastik selofan. Belakangan ini dikembangkan pembungkus dari bahan kolagen atau kolagen yang berasal dari protein hewani. Penggunaan kolagen ini sangat menguntungkan, aman, mudah dan praktis karena bisa langsung dimakan. Harganya pun relatif murah jika dibandingkan pembukus alami dari adalah ketika dikaitkan dengan kehalalan. Status kehalalalan pembungkus makanan yang bisa dimakan tersebut sangat tergantung dari sumber dan asal-usul bahannya. Dalam hal ini bahannya adalah kolagen, sejenis protein hewani yang berasal dari kulit atau jaringan ikat hewan. Pertanyaannya hewan apakah yang digunakan sebagai sumber kolagen tersebut?Secara statistik kolagen yang digunakan oleh industri kebanyakan berasal dari sapi, babi, atau ikan. Ketika bicara tentang kolagen yang bersumber dari sapi, maka aspek kehalalan mengenai cara penyembelihan hewan tersebut. Sebab ketika sapi tidak disembelih sesuai aturan Islam, maka kulit dan produk turunannya juga ikut sapi halal di Eropa dan negara barat lainnya masih sangat sedikit, biasanya khusus untuk keperluan ekspor ke negara-negara muslim saja. Sedangkan untuk keperluan industri, seperti kolagen, masih sangat jarang mempertimbangkan aspek kehalalan yang bagi konsumen adalah sebuah harga mati. Oleh karena itu tak ada salahnya untuk tetap waspada terhadap bahan makanan yang menggunakan kemasan tersebut.Sumber LPPOM MUI dev/Odi Bungkus makanan memegang peranan yang sangat penting, bahkan kadang-kadang lebih penting dari isinya. Ia juga mampu meningkatkan nilai tambah makanan. Teknologi kemasan berkembang sangat pesat seiring dengan perkembangan teknologi pengolahan pangan. Pada zaman dahulu kemasan lebih didominasi oleh bahan-bahan alami, seperti daun, bambu dan kayu. Kemudian dengan ditemukannya bahan kemasan sintetis, kini kita mengenal plastik, kaca, kaleng dan aluminium foil sebagai pembungkus makanan dengan segala kelebihan dan bahan pembungkus sintetis tersebut kini mulai digugat konsumen, khususnya yang terkait dengan masalah lingkungan dan efek samping yang ditimbulkannya. Kemasan gelas dan kaleng digugat karena sulit didegradasi alam, sehingga dianggap mengancam kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup. Sedangkan kemasan plastik dan gabus styrofoam dianggap menghasilkan residu berbahaya yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan bagi penggunanya. Kemasan plastik yang dipakai untuk bahan makanan yang dipanaskan akan menyisakan monomer hasil degradasi dari polimer yang merupakan bahan penyusun plastik. Nah, monomer ini diduga kuat bisa menimbulkan gangguan kesehatan bagi pemakainya dan bisa mengakibatkan penyakit terhadap bahan pembungkus sintetis tersebut mendorong para pakar di bidang teknologi kemasan untuk kembali melirik bahan alami. Namun sepenuhnya kembali kepada bahan alami juga menimbulkan banyak masalah ketika harus berhadapan dengan ketatnya sistem produksi. Tidak terbayangkan, bagaimana susahnya membungkusi makanan dengan daun pisang jika diproduksi secara masal dalam industri itu pembungkus alami juga memiliki sifat-sifat yang kurang menguntungkan, seperti masalah standarisasi, kekuatan dan daya tahan. Oleh karena itu dengan tetap berorientasi pada industrialisasi, sekaligus juga ramah lingkungan dan aman bagi konsumen, maka dikembangkanlah jenis kemasan yang bisa dimakan edible, khususnya untuk kemasan yang bersentuhan langsung dengan bahan satu pembungkus edible yang cukup populer adalah bahan pembungkus sosis. Dahulu orang mengenal sosis sebagai bahan makanan yang dibungkus dengan usus kambing atau babi. Tetapi karena tidak praktis dan banyak kesulitan dalam teknis pembungkusannya, maka kini dikembangkan pembungkus dari sejenis plastik selofan. Belakangan pembungkus sosis ini juga diarahkan kepada jenis pembungkus yang bisa dimakan, lebih akrab dengan lingkungan, mudah, praktis dan tidak berbahaya bagi jatuh pada bahan colagen atau kolagen yang berasal dari protein hewani. Penggunaan kolagen dalam pembuatan kemasan yang bisa dimakan itu sangat menguntungkan, aman, mudah dan praktis karena bisa langsung dimakan. Sehingga konsumen tidak susah-susah lagi mengupas. Harganyapun relatif murah jika dibandingkan dengan pembungkus alami yang berasal dari adalah ketika dikaitkan dengan kehalalan. Status kehalalan pembungkus makanan yang bisa dimakan ini sangat tergantung dari sumber dan asal-usul bahannya. Bahan dasar kemasan ini adalah kolagen, sejenis protein hewani yang berasal dari kulit atau jaringan ikat hewan. Pertanyaannya adalah, hewan apakah yang digunakan sebagai sumber kolagen tersebut?Secara statistik kolagen yang digunakan oleh industri-industri kemasan tersebut kebanyakan berasal dari sapi, babi atau ikan. Sapi paling banyak digunakan, terutama di negara-negara yang memang memiliki potensi peternakan besar seperti Australia, Eropa dan Amerika. Namun demikian dilaporkan juga adanya penggunaan babi sebagai sumber kolagen di berbagai tempat. Sedangkan ikan masih sangat sedikit, karena jaringan ikat pada hewan ini memang tidak terlalu banyak. Paling hanya pada ikan hiu atau ikan paus yang keberadaannya sudah mulai berbicara tentang kolagen yang bersumber dari sapi, maka aspek kehalalan harus bisa menjelaskan mengenai cara penyembelihan hewan tersebut. Ketika sapi tidak disembelih sesuai aturan Islam, maka kulit dan produk turunannya juga ikut haram. Pemotongan sapi halal di Eropa, Amerika dan Australia sampai saat ini masih sangat sedikit, biasanya khusus untuk keperluan ekspor daging ke negara-negara muslim. Sedangkan untuk keperluan industri, seperti kolagen, masih sangat jarang mempertimbangkan aspek memang beberapa industri kemasan yang menggunakan sumber sapi halal. Tetapi kebanyakan industri ini masih mempergunakan semua jenis sapi, baik yang halal maupun yang tidak. Apalagi jika ada juga yang menggunakan sumber kolagen dari babi, masalahnya akan lebih gawat informasi-informasi tersebut, penggunaan kemasan yang bisa dimakan edible memang sebuah terobosan teknologi yang sangat menguntungkan bagi produsen dan konsumen. Namun perlu diingat, aspek kehalalan adalah harga mati bagi konsumen Muslim. Oleh karena itu tidak ada salahnya untuk tetap waspada terhadap bahan makanan yang menggunakan kemasan tersebut. Auditor LPPOM MUI dan Ketua Redaksi Jurnal Nur Wahid REPUBLIKA - Jumat, 22 September 2006 BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sandwich adalah salah satu makanan yang mudah dibuat, sehingga sandwich cocok dibuat untuk sarapan atau bekal karena pembuatannya pun bisa membuat kreasi isian sandwich sesukamu, boleh manis boleh asin juga. Buat kamu anak kos yang lagi bingung mau bekal apa, yuk bikin beberapa resep sandwich yang mudah dan enak ini. 1. Sandwich Sayur Kalau kamu suka banget sama sayur dan susah nemu olahan sayur yang pas di lidah, bisa banget coba bikin sandwich sayur yang isinya bisa kamu sesuaikan sendiri dengan sayur favorit dan tambahan sosis siap sih yang cocok dimakan sama roti itu sayur seperti kubis, selada, tomat, timun, dan wortel. Potong sayur kemudian tata di atas roti dan tambahkan irisan sosis, kalau mau lebih ada rasanya bisa pakai mayonais atau salad dressing yang Sandwich TelurKemudian ada sandwich telur yang pastinya gampang banget dibuat, sandwich telur isiannya sudah pasti telur dadar/ceplok, sosis, potongan tomat atau mentimun, dan mayonais. Kalau mau lebih enak tinggal panggang rotinya sebentar, jadi deh sandwich telur untuk bekal ke kampus. 3. Sandwich OmeletBosan dengan sandwich telur yang gitu-gitu aja? Kamu bisa juga mengolah telurnya terlebih dahulu menjadi omelet. Beri isian berupa sayur kubis, sosis, atau kornet, kemudian potong omelet sesuai dengan ukuran roti dan siap Sandwich Ubi Ungu 1 2 Lihat Foodie Selengkapnya SAHABAT Muslim lapisan plastik yang membungkus sosis ternyata ada yang bisa dimakan dan ada yang tidak lho. Nah, apa saja ya bedanya? Berikut cara membedakan plastik sosis yang bisa dan tidak bisa dimakan. Baca Juga Buang Telur Kalau Ada Ciri-Ciri Ini Ciri-Ciri Plastik Sosis yang Bisa Dimakan Edible Tidak Mengkilap Plastik sosis yang bisa dimakan ternyata terbuat dari kolagen sapi dan ikan. Untuk di Indonesia sendiri, paling banyak menggunakan kolagen sapi. Selain itu, sosis yang menggunakan kolagen sebagai pelapisnya biasanya tidak punya warna yang mengilap. Susah Dikupas Ciri lainnya dari pembungkus sosis yang bisa dimakan adalah susah dikupas. Ya, pelapis sosis yang terbuat dari kolagen sapi lebih susah untuk dikupas. Di ujung sosis, hanya disisakan sedikit saja lapisannya sehingga susah untuk ditarik. Kalaupun kamu berhasil menarik dan mengupasnya, bagian daging sosis akan ikut terbawa. Kulit Plastik Tidak Rusak Pelapis yang terbuat dari kolagen akan mengikuti tekstur daging sosis yang telah dimasak. Harganya Lebih Mahal Tak bisa dimungkiri, sosis yang memakai kolagen sebagai pelapisnya memiliki harga yang relatif lebih mahal. Sebab, selain lebih praktis, ini juga lebih aman bagi kesehatan konsumen. Bentuk dan Ukuran Sosis yang Berbeda Sosis dengan plastik yang bisa dimakan dan terbuat dari pembungkus alami, bentuk dan ukurannya cenderung tidak sama. Berbeda dengan plastik sosis yang tidak bisa dimakan, cenderung memiliki ukuran yang sama. Ciri-Ciri Plastik Sosis yang Tidak Bisa Dimakan Inedible Terbuat dari Selofan dan Mengilap Plastik sosis yang tidak dapat dikonsumsi harus dilepas sebelum digoreng, dipanggang, atau direbus, karena ini terbuat dari bahan selofan tipis selulosa. Mudah Dikupas Di ujung sosis, pelapis yang terbuat dari selulosa akan tersisa lebih banyak. Ketika Dimasak, Lapisannya Mengerut Plastik inedible umumnya akan mengerut dan terpisah dari dagingnya ketika dipanaskan. Kalau sudah ketahuan seperti itu, lebih baik matikan kompor sejenak dan kupas lapisan sosis tersebut, jangan dibiarkan. Harganya Lebih Murah Sosis-sosis yang lebih murah biasanya menggunakan plastik selofan atau selulosa sebagai pelapisnya. Kulit Pembungkus Lebih Tebal Kulit sosis yang tidak bisa dimakan memiliki kulit pembungkus lebih tebal dengan tampilan yang lebih halus dan mengkilap. Nah itu dia, penjelasan kenapa tidak semua sosis bisa dimakan bersama kulitnya. Semoga bermanfaat. [wmh]

pembungkus sosis yang bisa dimakan